Rabu, 05 April 2017

TUGAS RANGKUMAN ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI

TUGAS RANGKUMAN
ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI





NAMA       : ALVIAN PUTRA SISWANTARA
KELAS      : 3IB05
NPM          : 10414899

BAB 6
Radio Pemancar

Sebuah pemancar radio menghasilkan sinyal pembawa, memberikan power amplifier dan menyesuaikan modulasi. Pemancar sederhana, sebuah osilator yang berkondisi off dan on untuk menghasilkan kode morse. Sebagian besar saluran yang digunakan dari osilator kristal untuk menghasilkan pembawa akurat dan stabil frekuensi, penguat penyangga memiliki osilator gelombang pembawa isolat dari beban, satu atau lebih driver meningkatkan amplifier untuk daya RF. dan power amplifier akhir, bahwa sinyal berlaku untuk antena. Stasiun AM, amplifier kelas C digunakan untuk meningkatkan daya RF. Tahap terakhir adalah termodulasi. Frekuensi modulasi pemancar menggunakan kelas C amplifier untuk meningkatkan daya RF. Dalam kelas A saat penguat kolektor terus mengalir, output berbanding lurus dengan Input, Oleh karena itu, itu adalah penguat linear. Amplifier Kelas B bias di cutoff sehingga arus kolektor mengalir untuk 180 derajat dari siklus masukan. Amplifier Kelas B biasanya terhubung dalam rangkaian push-pull dimana transistor menguatkan masing-masing setengah dari sinyal input. Kolektor pulsa saat ini di kelas C penguat diubah menjadi gelombang sinus terus menerus saat  resonansi. Amplifier RF berosilasi oleh umpan balik dari kapasitansi transistor internal. Hal ini dapat dihilangkan atau dicegah dengan netralisasi, proses yang membatalkan umpan balik dengan out-of-fase umpan balik. Pengganda frekuensi dapat diimplementasikan dalam untuk menghasilkan frekuensi output yang lebih tinggi. Dalam sebuah pemancar FM, peningkatan pengganda frekuensi deviasi dan frekuensi pembawa. Amplifier Linear menggunakan kelas A atau B dapat digunakan untuk meningkatkan tingkat energi AM-SSB sinyal. Impedansi yang cocok jaringan digunakan untuk amplifier RF dan beberapa untuk interkoneksi antena untuk memastikan transfer yang optimal. Transfer daya maksimum terjadi ketika impedansi sama dengan impedansi sumber pembangkit. Radio-frekuensi transformator biasanya dibangun dengan core bubuk besi berbentuk donat disebut toroids. Induktor dibuat dengan core cincin untuk induktansi diberikan lebih kecil Gunakan lebih sedikit gulungan, lebih tinggi Q dan tidak memerlukan pelindung. Sebuah balun adalah transformator dengan cara yang khusus dengan lingkaran keseimbangan tidak seimbang pada transformasi atau sebaliknya untuk menyediakan pencocokan impedansi (Mathcing). Toroida transformator dan baluns adalah perangkat broadband beroperasi lebih lebar dari bandwidt. Broadband, linear, yg tak disetel power amplifier RF memberikan keuntungan pada rentang frekuensi yang luas. Batas suara clipper menggunakan dioda dengan amplitudo sinyal modulasi sinyal audio. Sebuah low-pass filter meratakan setiap kliping distorsi, dan mencegah sidebands berlebihan. Kompresor Voice otomatis mendapatkan kontrol (AGC) sirkuit untuk membatasi amplitudo audio. Penguatan sirkuit berbanding terbalik dengan amplitudo sinyal audio. AGC circuit, penyearah dan filter mengubah audio atau RF di tegangan yang mengontrol gain untuk mencegah audio atau RF amplifier overdrive. Keuntungan dari penguat transistor dapat divariasikan dengan memvariasikan arus kolektor.

BAB 7
komunikasi Penerima

Bentuk paling sederhana dari penerima komunikasi, frekuensi disetel oleh radio (TRF) penerima, yang menyediakan RF dan AF gain, selektivitas, dan demodulator. Sensitivitas adalah kemampuan dari penerima untuk mengambil sinyal lemah agar mendapatkan keuntungan. Kerugian dari TRF adalah kesulitan penerima dalam menala dan selektivitas bervariasi dengan frekuensi. Masalah-masalah ini dieliminasi oleh penerima TRF dengan menggunakan sebuah penerima superheterodyne (superhet). Superhet menggunakan mixer dengan sinyal yang masuk ke frekuensi yang lebih rendah, yang dikenal sebagai frekuensi menengah (IF), di mana keuntungan tetap dan selektivitas dapat diperoleh. Sebagian besar keuntungan dan selektivitas dalam superheterodyne diperoleh dalam penguat menengah frekuensi. Sebuah gambar sinyal pada frekuensi dipisahkan dari frekuensi sinyal yang diinginkan oleh 2 kali IF nilai yang mengganggu penerimaan. Mixer, baik sinyal yang diinginkan dan gambar untuk mengkonversi IF. Gangguan gambar disebabkan oleh input penerima yang jelek sehingga tidak mencukupi selektivitas yang menolak gambar. Gangguan gambar dapat dikurangi dengan penggunaan konversi ganda superheterodyne bahwa dua mixer. IF pertama adalah tinggi untuk menghapus gambar dan lapisan kedua adalah untuk memastikan selektivitas yang baik. Bagian paling penting dari masing-masing penerima, ujung depan yang terdiri dari penguat RF dan mixer sirkuit ini untuk sederhana dan suara ke sinyal yang lemah.dan suara ke sinyal yang lemah.
ierajatKebisingan adalah setiap gangguan terhadap sinyal lemah. Ukuran kebisingan penerima, sinyal-to-noise (SIN) rasio. Eksternal suara dari sumber industri, atmosfer', dan ruang. Sumber industri mengalami peradangan, motor dan generator, switchgear, dan lampu neon. Atmosfer suara dari petir dan sumber-sumber lainnya. Ruang suara berasal dari matahari dan bintang lain dan sumber luar bumi. kebisingan internal komponen elektronik juga mengganggu penerimaan dan benar-benar dapat menutupi lemah sinyal. Sebagian besar suara internal yang berasal dari panas agitasi-to gerak acak elektron dan atom dalam materi oleh panas. Suara tegangan termal sebanding dengan suhu, bandwidth dan nilai resistansi. Kinerja Kebisingan dari penerima atau sirkuit dalam hal angka kebisingan, faktor kebisingan, bahwa rasio input SIN ke SIN output. Hal ini biasanya diberikan dalam desibel. Sebagian besar penerima menerima selektivitas mereka dari sirkuit LC double-tuned. Sebagian besar penerima memiliki sirkuit AGC sehingga rentang dinamis yang besar dari masukan amplitudo sinyal memindai ditampung tanpa distorsi. Sirkuit AGC mengoreksi demodulator keluaran IF, atau dengan IF kontrol amplifier gain. Gain dari transistor bipolar dapat divariasikan dengan arus kolektor. Otomatis kontrol frekuensi (AFC) adalah sistem umpan balik yang mirip dengan AGC, yang digunakan untuk koreksi frekuensi dan ketidakstabilan di LO VHF, UHF dan frekuensi gelombang mikro penerima. ​​Sebuah transceiver adalah sebuah peralatan komunikasi yang menggabungkan penerima dan pemancar.

Uji Mandiri halaman 107-108
12.  Linier amplifier digunakan untuk membangkitkan sinyal AM dan SSB.
13.  Sebuah amplifier kelas C digunakan untuk meningkatkan kekuatan sinyal FM.
14.  Penguatan linier beroperasi pada kelas A, B dan AB.
15. Sebuah transistor kelas A memiliki efisiensi 50%. Nilai keluaran adalah 27W, daya yang hilang dalam transistor tersebut adalah 27 W.
16.  Penguatan kelas A menerima 360 derajat sebuah gelombang sinus sebagai input.
17. Benar atau salah. Tanpa input, sebuah penguat kelas B tidak akan berfungsi? Benar.
18.  Penguat kelas B RF secara normal digunakan pada konfigurasi tarik ulur.
19. Sebuah penguat kelas C menerima untuk mengubah 90 derajat sampai 150 derajat sinyal input.
20. Dalam penguat kelas C, aliran arus kolektor dalam bentuk gelombang (sinusoidal).
21.  Dalam penguatan kelas C, hasil keluaran berupa sinyal lengkap dihasilkan oleh rangkaian resonansi dan penala.
22.  Efisiensi penguatan kelas C dalam jangkauan 60% sampai 80%.
23. Rangkaian penala dalam kolektor penguatan kelas C bekerja sebagai penyaring untuk menghilangkan harmonik.
24. Sebuah penguat kelas C dimana nilai keluaran rangkaian penala sama dengan nilai pengali dari frekuensi masukan disebut pengganda frekuensi.
25. Frekuensi pengali dengan faktor 2, 3, 4, 5 berurutan. Masukan sebesar 1.5 mhz. Maka nilai output adalah 180 mhz.
26. Sebuah penguatan kelas C memiliki sumber tegangan DC 28V dan rata rata arus kolektor 1.8A. Daya input adalah 50,4 W.

Uji Mandiri Halaman 150-151
53. Penguatan RF menghasilkan inisial gain dan pilihan pada sebuah receiver tapi juga menambahkan noise.
54. Sebuah noise lemah transistor cenderung pada frekuensi gelombang microwave MOSFET atau GASFET terbuat dari gallium arsenide.
55. Kebanyakan gain dan penyaringan dalam panas berlebih berada pada penguatan IF.
56. Penyaringan dalam penguatan IF biasanya dihasilkan akibat penggunaan rangkaian penala diantara prosesnya.
57. Lebar pita dalam rangkaian penala ganda berubah seiring sudut mutual induktansi diantara perputaran primer dan sekunder.
58. Dalam rangkaian penala ganda, minimal lebar pita berada dengan dibawah kopling, maksimal lebar pita dengan melebihi kopling dan puncak keluaran berada pada optimal atau kritis kopling.
59.  Sebuah penguatan IF bahwa klip puncak positif dan negatif dari sinyal disebut pembatas.
60.  Kliping terjadi pada amplifier karena transistor didorong oleh sinyal tingkat tinggi ke saturasi.
61.  Keuntungan dari penguat bipolar kelas A dapat bervariasi dengan mengubah arus dan kolektor
62.  Gain RF – IF keseluruhan penerima adalah sekitar 100 db
63.  Menggunakan amplitudo sinyal yang masuk untuk mengontrol gain dari penerima dikenal sebagai pengontrol gain otomatis.
64.  Rangkaian AGC bervariasi gain dari IF amplifier.
65.  Kontrol tegangan DC AGC berasal dari rangkaian penyearah terhubung ke penguat IF atau deteksi keluaran.
66.  Sebaliknya AGC adalah di mana peningkatan amplitudo sinyal menyebabkan pengurangan dalam arus kolektor pada penguat IF.
67. AGC bias maju menggunakan peningkatan amplitudo sinyal untuk meningkatkan arus kolektor dimana mengurangi gain dari penguat IF.
68.  AGC dari penguat diferensial yang dihasilkan dengan mengendalikan arus yang dihasilkan oleh sumber arus konstan transistor.
69.  Dalam dual-gate MOSFET IF amplifier, tegangan dc AGC diterapkan pada gerbang kontrol.
70.  Nama lain untuk AGC di penerima AM adalah kontrol volume otomatis.
71.  Dalam penerima AM, tegangan AGC berasal dari detektor dioda.
72.  Sinyal masukan yang besar menyebabkan keuntungan dari penerima menjadi pengurang AGC.
73. Sebuah rangkaian AFC mengoreksi pelayangan frekuensi di rangkaian osilator lokal.
74. Tegangan AFC kontrol berasal dari rangkaian demodulator dalam penerima.
75. Sebuah kapasitor variabel tegangan digunakan dalam rangkaian AFC untuk memvariasikan LO frekuensi.
76. Sebuah sirkuit yang blok audio sampai sinyal yang diterima disebut sirkuit memadamkan.
77. Dua jenis sinyal yang digunakan untuk mengoperasikan sirkuit memadamkan audio noise.
78. Dalam sistem CTCS, frekuensi nada rendah untuk membangkitkan rangkaian pemadam.
79.  Sebuah BFO diperlukan untuk menerima SSB dan sinyal CW.


Selasa, 08 November 2016

Tugas 4 Ekonomi Teknik

Tugas 4 Ekonomi Teknik


Nama       : Alvian Putra Siswantara
Kelas       : 3IB05B
NPM        : 10414899

UNIVERSITAS GUNADARMA
2016
INTERNAL RATE OF RETURN (IRR)
Sebuah proyek dengan investasi sebesar Rp. 20.000.000,- dan akan memberikan pemasukan setiap tahunnya sebesar Rp.4.900.000,- berlangsung selama 5 tahun. Berapa IRR dari proyek tersebut?
Jawab :
PV penerimaan/PV biaya =1
4900000(P/A; i%, 5)/20000000 =1
(P/A; i%; 5) = 20000000/4900000
(P/A; i%; 5) = 4,0816
IRR = 7% + ((4,1002-4,0816)/(4,1002-4,0459)) x (7,5% – 7%)
= 7% + (0,0816/0,0543) x (0,5%)
= 7% + 0,3425 x (0,5%)
= 7% + 0,17%
IRR = 7,17%
Net Present Value (NPV)
Seorang pengusaha sedang mempertimbangkan membuka usaha warnet di sebuah ruko. Harga ruko, komputer, jaringan, dan semua perlengkapan yang diperlukan untuk investasi ini adalah Rp. 400.000.000,- . Sedangkan kas bersih yang dapat diperoleh dari usaha ini adalah Rp. 5.000.000,- per bulan terus menerus. Jika tingkat return yang digunakan adalah 12 % p.a. Hitunglah NPV usaha ini dan tentukan apakah proyek ini sebaiknya diterima atau ditolak ?

Jawab : 
k          = 12% p.a atau 1% perbulan = 0,01
CFi      = A = Rp. 5.000.000 per bulan
 I0            = Rp. 400.000.000
Penyelesaian : PV = CF1 / k
NPV    = PV – Io
             =A/k- I
             =(Rp.5.000.0000)/0,01- Rp.400.000.000
             = Rp. 100.000.000


Karena NPV > 0 proyek  diterima

Referensi :


Tugas 3 Ekonomi Teknik

Tugas 3 Ekonomi Teknik


Nama       : Alvian Putra Siswantara
Kelas       : 3IB05B
NPM        : 10414899

UNIVERSITAS GUNADARMA
2016

1. Pengertian Nilai Ekivalensi
Nilai uang yang berbeda pada waktu yang berbeda akan tetapi secara finansial mempunyai nilai yang sama. Kesamaan nilai finansial tersebut dapat ditunjukkan jika nilai uang dikonversikan (dihitung) pada satu waktu yang sama.
Istilah-istilah yang digunakan pada nilai Ekivalensi
1          i  = Interest / bunga (%).
2       n = Periode (bias periode tahun atau bulan)
3     P = Present value (present worth) adalah nilai uang pada saat dimulai proyek (pada saat sekarang) yaitu pembayaran yang hanya berlangsung sekali pada tahun ke-0.
4    F = Future value (future worth) adalah pembayaran yang hanya berlangsung sekali pada tahun ke – n (sembarang).
5      A = Annual Worth adalah pembayaran seri (tabungan) yaitu pembayaran yang terjadi berkali-kali tiap tahun dalam jumlah yang sama besar dilakukan tahun ke-1 sampai tahun ke-n sebesar A.
6     G = Gradient yaitu pembayaran yang terjadi berkali-kali tiap tahun naik dengan kenaikan yang sama atau menurun secara seragam.

A. Present Value
Nilai sekarang atau present value adalah berapa nilai uang saat ini untuk nilai tertentu di masa yang akan datang. Present value atau nilai sekarang bisa di cari dengan menggunakan rumus future value atau dengan rumus berikut ini :
P = Fn/ ( 1 + r ) n
Keterangan:
Fn  = ( Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )
P    = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r     = Suku bunga
n    = Jumlah Waktu ( tahun )

B. Future Value
Nilai yang akan datang atau future value adalah nilai uang di massa yang akan datang dengan tingkat bunga tertentu.Future value atau nilai yang akan datang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Fn   = P ( 1 + r ) n
Keterangan:
Fn   = ( Future value ( nilai pada akhir tahun ke n )
P     = ( Nilai sekarang ( nilai pada tahun ke 0 )
r      = Suku bunga
n     = Jangka Waktu ( tahun )

C. Annual Worth
Perhitungan tentang aliran uang dalam suatu perusahaan. Kondisi cash flow suatu perusahaan dapat menentukan kelangsungan hidup perusahaan. Cash flow dihitung untuk memperkirakan kemungkinan yang belum terjadi.
Istilah Capital Recovery (CR) : CR adalah Nilai merata tahunan yang ekuivalen dengan modal  yang   diinvestasikan.
CR = I(A/P, i, n) – S(A/F, i, n)
CR = (I-S) (A/F, i, n) + I(i)
CR = (I-S) (A/P, i, n) + S(i)

Keterangan :
·      I : Investasi awal
·      S : Nilai sisa di akhir usia pakai
·      n : Usia pakai

Rumus Annual Worth Analysis :
AW = Revenue –Expences -CR

Annual Worth Analysis dilakukan terhadap :
a.        Alternatif tunggal , layak jika AW > 0
b.        Beberapa alternatif dengan usia pakai sama
c.        Beberapa alternatif dengan usia pakai berbeda
d.        Periode analisis tak berhingga
e.        Untuk b,c, dan d : dipilih Annual Worth terbesar

D. Gradient
Pembayaran yang terjadi berkali-kali tiap tahun naik dengan kenaikan yang sama atau penurunan yang secara seragam.

Kegunaan
Untuk pembayaran per periode kadang-kadang tidak dilakukan dalam suatu seri pembayaran yang besarnya sama tetapi dilakukakn dengan penambahan /pengurangan yang seragam pada setiap akhir periode.

Rumus:
A   = A1 + A2
A2 = G (1/i - n / (1 + i)n - 1)
      = G (A/G, i, n)

Keterangan:
A           = pembayaran per periode dalam jumlah yang sama
A1        = pembayaran pada akhir periode pertama
G          = “Gradient” perubahan per periode
N          = jumlah periode

Contoh:
              Seorang pengusaha membayar tagihan dalam jumlah yang sama per periode. Perubahan per periode dengan jumlah uang sebesar Rp 30.000.000  selama 4 tahun. Dengan bunga sebesar 15 % per tahun. Berapa jumlah pembayaran pada akhir tahun pertama?
Jawab:
A2        = G (A/G, i, n)
              = Rp 30.000.000 (A/G, 15 %, 4)
              = Rp 30.000.000 (0,5718)
              = Rp 17.154.000

2. Metode  Ekivalensi
Merupakan metode yang digunakan dalam menghitung kesamaan atau kesetaraan nilai uang waktu berbeda.
Nilai ekivalensi dari suatu nilai uang dapat dihitung jika diketahui 3 hal:
1)      Jumlah uang pada suatu waktu
2)      Periode waktu yang ditinjau
3)      Tingkat bunga yang dikenakan


3. Contoh Kasus dari Istilah Ekivalen

A. Present Value
Sasa menginginkan agar uangnya menjadi Rp. 5.555.444 pada 5 tahun yang akan datang, berapakah jumlah uang yang harus ditabung Sasa saat ini seandainya diberikan bunga sebesar 5% pertahun? 
Dik : 
F5           = 5.555.444
r           = 5% = 0,05
n          = 5
Dit : P?
Jawab :
P = Fn /( 1 + r)n
P = 5.555.444/(1+ 0,05)5
P = 4.352.836

B. Future Value
Tanti meminjam uang di suatu bank sebanyak Rp. 55.555.555 untuk jangka waktu 4 tahun, dengan tingkat bunga 5% per tahun. Berapakah jumlah seluruh uang yang harus dikembalikan Tanti pada saat pelunasan?
Dik :
P          = 55.555.555
r           = 5% = 0,05
n          = 4
Dit : F4 ?
Jawab :
F4 = P (1 + r )n
F4= 55.555.555 (1+(0,05))4
F4=67.528.125

C. Annual Worth
Sebuah perusahaan elektronik melakukan investasi sebesar $60.000 untuk pengecekan perangkat secara presisi. Ini memerlukan $4.000 untuk mengoperasikan dan perawatan pada tahun pertama, dan $3.000 dalam tiap tahun berikutnya. Pada akhir tahun keempat perusahaan mengubah pprosedur pengecekan, menghilangkan kebutuhan untuk perangkat tersebut. Agen pembelian sangat senang untuk dapat menjual perangkat pengecekan sebesar $60.000.Manager perencana meminta anda untuk menghitung equivalent uniform annual cost dari perangkat tersebut selama empat tahun perangkat tersebut digunakan.
Asumsikan bunga sebesar 10% per tahun.
Solusi
EUAC = 60.000(0,100) + 3.000 + 1.000(P/F,10%,1)(A/P,10%,4)
            = 6.000 + 3.000 + 1.000(0,9091)(0,3155) = $9.287
Ini merupakan situasi yang tidak biasa di mana ongkos = Nilai Sisa.
Pada situasi ini annual capital recovery cost equals merupakan interest pada investasi. Jika seseorang meragukan hal ini, mereka harus menghitung $60.000(A/P,10%,4) – 60.000(A/F,10%,4). Hal ini tentu seimbang dengan Pi = 60.000(0,10) = $6.000

D. Gradient
Seorang pengusaha membayar tagihan dalam jumlah yang sama per periode. Perubahan per periode dengan jumlah uang sebesar Rp 30.000.000  selama 4 tahun. Dengan bunga sebesar 15 % per tahun. Berapa jumlah pembayaran pada akhir tahun pertama?
Jawab:
A2        = G (A/G, i, n)
              = Rp 30.000.000 (A/G, 15 %, 4)
              = Rp 30.000.000 (0,5718)
              = Rp 17.154.000

4. Contoh kasus Nilai Sekarang Dan Tahunan
1. Ekivalensi Nilai Sekarang
Rencana pemasangan pipa untuk menyalurkan air bersih. Biaya pemasangan Rp 8.000.000.000,00 dan harus diperbaharui setiap 70 tahun. i = 7 %. Berapa biaya kapitalisasi ?
Penyelesaian:



Biaya pemasangan II Rp 8.000.000.000,00 (pada tahun ke 70) mempunyai nilai ekivalensi tahunan pada 70 tahun yang pertama sebesar :
A   =  8.000.000.000 (A/F ; 7 % ; 70)
      =  8.000.000.000 (0,0006)
      =  Rp 4.800.000,00
Nilai ekivalensi pada 70 tahun yang ke II, dan seterusnya adalah = Rp 4.800.000,00
Biaya kapitalisasi :
P   = 8.000.000.000 + A/i
     = 8.000.000.000 + 4.800.000/0.07
     = Rp 8.069.000.000,00


2. Ekivalensi Nilai Tahunan
Sebuah mesin dengan data sebagai berikut :
Harga awal                  : Rp 10.000.000,-
Ongkos tahunan          : Rp 1.000.000,-
Masa pakai                  : 5 tahun
Harga akhir                 : Rp 5.000.000,-
i                                   : 20 % setahun

Maka EUAC : 



Ekivalensi Secara Langsung (Sekaligus)
A1 = P (A/P; 20 %; 5) + A – L (A/F; 20 %; 5)
     = 10.000.000 (0,3348) + 1.000.000 – 5.000.000 (0,13438)
     = 3.443.800 + 1.000.000 – 671.900
     = Rp 3.671.900,00
Bila siklus masa pakainya lebih dari sekali, misalnya 2 kali, maka ENT dari kedua siklus tersebut 





A* siklus ke I bersambung, dengan A* siklus ke II, A* tidak berubah. 

Referensi :



Selasa, 18 Oktober 2016

Tugas 2 Ekonomi teknik

Tugas 2 Ekonomi Teknik


Nama       : Alvian Putra Siswantara
Kelas       : 3IB05B
NPM        : 10414899

UNIVERSITAS GUNADARMA
2016

A. Pengertian Arus Kas (Cash Flow)
Arus kas (cash flow) adalah suatu laporan keuangan yang berisikan pengaruh kas dari kegiatan operasi, kegiatan transaksi investasi dan kegiatan transaksi pembiayaan/pendanaan serta kenaikan atau penurunan bersih dalam kas suatu perusahaan selama satu periode.
Menurut PSAK No.2 (2002 :5) Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Laporan arus kas merupakan revisi dari mana uang kas diperoleh perusahaan dan bagaimana mereka membelanjakannya. Laporan arus kas merupakan ringkasan dari penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan selama periode tertentu (biasanya satu tahun buku).
Laporan arus kas (cash flow) mengandung dua macam aliran/arus kas yaitu :
1. Cash inflow
Cash inflow adalah arus kas yang terjadi dari kegiatan transaksi yang melahirkan keuntungan kas (penerimaan kas). Arus kas masuk (cash inflow) terdiri dari:
•    Hasil penjualan produk/jasa perusahaan.
•    Penagihan piutang dari penjualan kredit.
•    Penjualan aktiva tetap yang ada.
•    Penerimaan investasi dari pemilik atau saham bila perseroan terbatas.
•    Pinjaman/hutang dari pihak lain.
•    Penerimaan sewa dan pendapatan lain.

2. Cash out flow
Cash out flow adalah arus kas yang terjadi dari kegiatan transaksi yang mengakibatkan beban pengeluaran kas. Arus kas keluar (cash out flow) terdiri dari :
•    Pengeluaran biaya bahan baku, tenaga kerja langsung dan biaya pabrik lain-lain.
•    Pengeluaran biaya administrasi umum dan administrasi penjualan.
•    Pembelian aktiva tetap.
•    Pembayaran hutang-hutang perusahaan.
•    Pembayaran kembali investasi dari pemilik perusahaan.
•    Pembayaran sewa, pajak, deviden, bunga dan pengeluaran lain-lain.

Laporan arus kas ini memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas dari perusahaan dari suatu periode tertentu, dengan mengklasifikasikan transaksi berdasarkan pada kegiatan operasi, investasi dan pendanaan.
Menurut PSAK No.2 (2002:9) Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
Aktivitas Operasi
Aktivitas operasi menimburkan pendapatan dan beban dari operasi utama suatu perusahaan. Karena itu aktivitas operasi mempengaruhi laporan laba rugi, yang dilaporkan dengan dasar akrual. Sedangkan laporan arus kas melaporkan dampaknya terhadap kas. Arus masuk kas terbesar dari opersi berasal dari pengumpulan kas dari langganan. Arus masuk kas yang kurang penting adalah penerimaan bunga atas pinjaman dan dividen atas investasi saham. Arus keluar kas operasi meliputi pembayaran terhadap pemasok dan karyawan, serta pembayaran bunga dan pajak.
Aktivitas Investasi
Aktivitas investasi meningkatkan dan menurunkan aktiva jangka panjang yang digunakan perusahaan untuk melakukan kegiatannya. Pembelian atau penjualan aktiva tetap seperti tanah, gedung, atau peralatan merupakan kegiatan investasi, atau dapat pula berupa pembelian atau penjualan investasi dalam saham atau obligasi dari perusahaan lain.
Pada laporan arus kas kegiatan investasi mencakup lebih dari sekedar pembelian dan penjualan aktiva yang digolongkan sebagai investasi di neraea. Pemberian pinjaman juga merupakan suatu kegiatan investasi karena pinjaman menciptakan piutang kepada peminjam. Pelunasan pinjaman tersebut juga dilaporkan sebagai kegiatan investasi pada laporan arus kas.
Aktivitas Pendanaan
Aktivitas pendanaan meliputi kegiatan untuk memperoleh kas dari investor dan kreditor yang diperlukan untuk menjalankan dan melanjutkan kegiatan perusahaan. Kegiatan pendanaan mencakup pengeluaran saham, peminjaman uang dengan mengeluarkan wesel bayar dan pinjaman obligasi, penjualan saham perbendaharaan, dan pembayaran terhadap pemegang saham seperti dividen dan pembelian saham perbendaharaan. Pembayaran terhadap kreditor hanyalah mencakup pembayaran pokok pinjaman.

B.  Penyusunan Cash Flow

Ada empat langkah dalam penyusunan cash flow, yaitu :
•         Menentukan minimum uang. Menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran
•         Menyusun perkiraan kebutuhan dana dari hutang yang dibutuhkan untuk menutupi deficit kas dan membayar kembali pinjaman dari pihak ketiga.
•         Menyusun kembali keseluruhan penerimaan dan pengeluaran setelah adanya transaksi financial dan budget kas yang final.

Cara lain dalam penyusunan cash flow adalah:
• Membuat garis horizontal menunjukkan skala waktu






• Membuat tanda panah keatas jika menyatakan penerimaan atau inflow (+).










• Membuat tanda panah keatas jika menyatakan pengeluaran atau outflow (-).
 









• Cash flow dapat dilihat dari pihak siapa saja, karena masuk pada peminjam = keluar bagi pemberi.

P (Present) adalah nilai uang pada saat dimulai proyek (pada saat sekarang) yaitu pembayaran yang hanya berlangsung hanya sekali pada tahun ke-0.








F (Future) adalah pembayaran pada saat periode yang akan dating yaitu pembayaran yang akan datang yaitu pembayaran yang hanya berlangsung sekali pada tahun ke –n (sembarang).









A (Annual) adalah pembayaran seri (tabungan) yaitu pembayaran yang terjadi berkali-kali tiap tahun dalam jumlah yang sama besar dilakukan tahun pertama hingga tahun ke –n sebesar A.








Gradien naik adalah pembayaran yang terjadi berkali-kali tiap tahun naik yang sama secara seragam.













Gradien turun pembayaran yang terjadi berkali-kali tiap tahun naik yang menurun secara seragam.










C. Perhitungan Aliran Uang ( Cash Flow )
Ada 2 cara dalam menghitung cash flow, yaitu:
  1. Kas Masuk Bersih= EAT+ Penyusutan.
Jika proyek/usaha tersebut dibiayai dengan modal sendiri.
  1. Kas Masuk Bersih= EAIT+Penyusutan+Bunga (1-tax)
Jika proyek/usaha tersebut dibiayai dengan modal pinjaman.
Contoh Cash Flow
Uraian
Menurut lap. Akuntansi
Keterangan
Arus Kas
  1. Pendapatan
Rp. 400 juta
Kas Masuk
Rp. 400 juta
  1. Biaya-Biaya
-Total Biaya
-Penyusutan
Rp. 200 juta
Rp. 100 juta
Kas Keluar
Kas Masuk
Rp. 200 juta
Rp. 100 juta
  1. Laba Sebelum pajak (EBT)
Rp. 100 juta
  1. Pajak 50%
Rp. 50 juta
Laba Setelah Pajak (EAT)
Rp. 50 juta
Cash flow = EAT+Penyusutan    = 50 juta + 100 juta
                                                         = 150 juta
Catatan:
EBT = Earning Before Tax (Laba Sebelum Pajak)
EAT = Earning After Tax (Laba Setelah Pajak)
Khusus bagi perusahaan yang sudah ada sebelumnya dan hendak melakukan ekspansi atau perluasan usaha, penilaian dapat pula dilakukan dari laporan keuangan yang dimilikinya. Laporan keuangan yang dinilai biasanya adalah neraca dan laporan laba rugi untuk beberapa periode (Kasmir & Jakfar, 2005:137).
  1. b. Net Present Value
Aplikasi Untuk Cash Flow Setiap Tahun Berbeda
Suatu perusahaan (asumsi) sedang mempertimbangkan usulan proyek investasi sebesar Rp. 50 juta selama 5 tahun, dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan 20 %, perkiraan arus kas (cash flow) pertahunnya sebagai berikut:
Tahun
Arus kas
1
17.500.000
2
19.000.000
3
20.500.000
4
22.000.000
5
24.500.000
Hitunglah keuntungan perusahaan tersebut dengan menggunakan analisis NPV!
Rumus.
               CF1     CF2       CF3         CFN
PV   =            +           +        +….+           – OI
                        (1+i)1   (1+i)2   (1+i)3              (1+i)n
NPV=   ∑ PV Cash flow – Nilai Investasi (Original investment)
Tahun(1)
Cash Flow(2)
Interest Rate(3)
Present Value(4)=(2)x(3)
1
Rp. 17.500.000
0,833
Rp. 14.577.500
2
Rp. 19.000.000
0,694
Rp. 13.186.000
3
Rp. 20.500.000
0,579
Rp. 11.869.500
4
Rp. 22.000.000
0,482
Rp. 10.604.000
5
Rp. 24.500.000
0,402
Rp. 9.849.000
Total present valueOriginal investment
Rp. 60.086.000
Rp. 50.000.000
Net Present Value
Rp.10.086.000
Berdasarkan kriteria NPV, usulan proyek investasi tersebut sebaiknya diterima karena NPV-nya positif. Artinya dana sebesar Rp. 50 juta yang diinvestasikan selama 5 tahun dalam proyek tersebut dapat menghasilkan present value cash flow sebesar Rp. 10.086.000
Aplikasi Untuk Cash Flow Setiap Tahun Sama
Suatu perusahaan mempertimbangkan usulan proyek investasi sebesar Rp. 50 juta dengan arus kas (cash flow) Rp. 25 juta pertahun sebesar Rp. juta selama 5 tahun dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan 20 %.
Tahun(1)
Cash Flow(2)
Intrest Rate(3)
Present Value(4)=(2)x(3)
1
Rp. 25.000.000
0,833
Rp. 20.825.000
2
Rp. 25.000.000
0,694
Rp. 17.350.000
3
Rp. 25.000.000
0,579
Rp. 14.475.000
4
Rp. 25.000.000
0,482
Rp. 12.050.000
5
Rp. 25.000.000
0,402
Rp. 10.050.000
Total present valueOriginal investment
Rp. 74.750.000
Rp. 50.000.000
Net Present Value
Rp. 24.750.000
Berdasarkan kriteria NPV, usulan proyek investasi tersebut sebaiknya diterima kerena NPV-nya positif. Artinya dana sebesar Rp. 50 juta yang diinvestasikan selama 5 tahun dalam proyek tersebut dapat menghasilkan present value cash flow sebesar Rp. 24.750.000
  1. Profit Sharing
Dari contoh diatas. Disini peneliti ingin mengadakan perbandingan dalam menilai kelayakan investasi melalui contoh yang sama dengan menggunakan analisis Profit Sharing, dengan tetap melihat perkiraan cash flow.
Contoh:
Suatu perusahaan (asumsi) sedang mempertimbangkan usulan proyek investasi sebesar Rp. 50 juta selama 5 tahun dengan nisbah bagi hasil 80:20, perkiraan arus kas (cash flow) pertahunnya sebagai berikut:
Tahun
Arus kas
1
17.500.000
2
19.000.000
3
20.500.000
4
22.000.000
5
24.500.000
Hitunglah keuntungan perusahaan tersebut dengan menggunakan analisis profit sharing!
Tahun(1)
Cash flow(2)
Nisbah Bagi Hasil(3)
Profit Sharing(4)=(2)x(3)
1
Rp. 17.500.000
0,2
Rp. 3.500.000
2
Rp. 19.000.000
0,2
Rp. 3.800.000
3
Rp. 20.500.000
0,2
Rp. 4.100.000
4
Rp. 22.000.000
0,2
Rp. 4.400.000
5
Rp. 24.500.000
0,2
Rp. 4.900.000
Total ProfitJumlah Investasi
Rp. 20.700.000
Rp. 50.000.000
Profit Sharing
Rp. -29.300.000
Berdasarkan analisis Profit Sharing, usulan proyek investasi tersebut sebaiknya ditolak, karena jumlah Profit Sharing lebih kecil dari jumlah investasi. Artinya dana sebesar Rp. 50 juta yang diinvestasikan selama 5 tahun dalam proyek tersebut dapat menghasilkanprofit sharing cash flow sebesar Rp. -29.300.000
Namun, dalam analisis profit sharing besar kecilnya nisbah bagi hasil dapat ditetapkan secara bersama dengan berlandaskan prinsip keadilan. Artinya dalam hal ini, pihak investor dapat menawar kembali jumlah nisbah tersebut. Misalnya, berdasarkan kesepakatan antara pihak pengelola dana dan pihak pemberi dana terjadi kesepakatan nisbah bagi hasil 50:50
Tahun(1)
Cash flow(2)
Nisbah Bagi Hasil(3)
Profit Sharing(4)=(2)x(3)
1
Rp. 17.500.000
0,5
Rp. 8.750.000
2
Rp. 19.000.000
0,5
Rp. 9.500.000
3
Rp. 20.500.000
0,5
Rp. 10.250.000
4
Rp. 22.000.000
0,5
Rp. 11.000.000
5
Rp. 24.500.000
0,5
Rp. 12.250.000
Total ProfitJumlah Investasi
Rp. 51.750.000
Rp. 50.000.000
Profit Sharing
Rp. 1.750.000
Berdasarkan analisis profit sharing dengan nisbah 50:50, jumlah profit adalah Rp. 1.750.000. Artinya, jika proyek investasi ini terjadi investor akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 1.750.000
Aplikasi Untuk Cash Flow Setiap Tahun Sama
Suatu perusahaan mempertimbangkan usulan proyek investasi sebesar Rp. 50 juta dengan arus kas (cash flow) Rp. 25 juta pertahun sebesar Rp. juta selama 5 tahun dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan dengan nisbah bagi hasil 80:20.
Tahun(1)
Cash flow(2)
Nisbah Bagi Hasil(3)
Profit sharing(4)=(2)x(3)
1
Rp. 25.000.000
0,2
Rp. 5.000.000
2
Rp. 25.000.000
0,2
Rp. 5.000.000
3
Rp. 25.000.000
0,2
Rp. 5.000.000
4
Rp. 25.000.000
0,2
Rp. 5.000.000
5
Rp. 25.000.000
0,2
Rp. 5.000.000
Total ProfitJumlah Investasi
Rp. 25.000.000
Rp. 50.000.000
Profit Sharing
Rp. -25.000.000
Berdasarkan kriteria Profit Sharing, usulan proyek investasi tersebut sebaiknya ditolak kerena Profit-nya negatif. Artinya dana sebesar Rp. 50 juta yang diinvestasikan selama 5 tahun dalam proyek tersebut dapat menghasilkan profit sharing cash flow sebesar Rp. -25.000.000
Akan berbeda hasilnya, jika dengan contoh yang sama, namun besaran nisbah bagi hasilnya 60:40,
Cash flow = 25.000.000 x 0,4 = 10.000.000
Waktu investasi = 10.000.000 x 5 = 50.000.000
Artinya, jika proyek investasi tersebut diterima, dengan nisbah bagi hasil 60:40 jumlah antara profit dan modal itu sama (impas).
Penilaian kelayakan investasi dengan menggunakan NPV, yang mengedepankan analisis kelayakan finansial, tentu akan menolak proyek investasi dengan nilai cash flow bersih yang lebih kecil dari modal, karena pihak investor akan mengalami kerugian.


Contoh : Tabel dan Diagram Cash Flow

Pencatatan Biaya Operasiaonal
Bulan Maret Tahun 2016

Tgl.
Perkiraan OCIF
Nilai (Rp)
Perkiraan OCOF
Nilai (Rp)
1
Penerimaan Operasi
12.000.000
2
Biaya Operasi
500.000
3
Biaya Produksi
3.000.000
4
Penerimaan Operasi
3.000.000
5
6
Biaya Operasi
1.000.000
7
Penerimaan Operasi
7.000.000
Dst
25
Biaya Operasi
300.000
26
Biaya Produksi
     6.000.000
27
Penerimaan Operasi
5.000.000
28
Penerimaan Operasi
4.000.000
Biaya Operasi
400.000
29
Biaya Produksi
2.400.000
30
 31
SALDO KURANG
SALDO LEBIH
17.400.000
JUMLAH
31.000.000
JUMLAH
31.000.000















Catatan  :  
1.      Saldo Lebih hanya diisi apabila Total OCIF lebih besar daripada Total OCOF    
2.      Saldo Kurang hanya diisi apabila Total OCIF lebih kecil daripada Total OCOF    
3.      Tanggal ditulis lengkap selama satu bulan, dari tanggal 1 hingga 30 atau 31 Apabila tidak terjadi transaksi pada tanggal tertentu, perkiraan dikosongkan.





REFERENSI :